Jadi teringat, terakhir kali saya menangis. Saat itu, suatu pagi, saya terbangun, tetapi dengan air mata meleleh. di dada, terasa sebuah perasaan seperti saat melepaskan beban yang begitu berat. Air mata terus mengalir, perasaan yang getir terus melanda, tetapi saya merasa lega. Saya menikmati tangisan itu. Saya menikmati perasaan lemah saya, yang hanya memiliki Dia sebagai tempat mengadu.

Cengengkah saya? Yah, walaupun saya membenci sinetron Indonesia dan lagu-lagunya yang menye-menye, saya tidak memungkiri kalau menangis adalah salah satu fitrah manusia. Saya juga manusia. Jadi saya boleh-boleh saja untuk menangis.

Mungkin ini sudah menjadi suatu kultur, bahwa seorang pria tidak boleh menangis. Apakah karena menangis adalah perbuatan yang menurunkan derajat seorang pria? Apakah karena seorang pria dilebihkan dalam beberapa hal, maka dia tidak memiliki hak untuk menangis? Ah, andai saja menangis itu wajar…..