Jadi teringat, terakhir kali saya menangis. Saat itu, suatu pagi, saya terbangun, tetapi dengan air mata meleleh. di dada, terasa sebuah perasaan seperti saat melepaskan beban yang begitu berat. Air mata terus mengalir, perasaan yang getir terus melanda, tetapi saya merasa lega. Saya menikmati tangisan itu. Saya menikmati perasaan lemah saya, yang hanya memiliki Dia sebagai tempat mengadu.
Cengengkah saya? Yah, walaupun saya membenci sinetron Indonesia dan lagu-lagunya yang menye-menye, saya tidak memungkiri kalau menangis adalah salah satu fitrah manusia. Saya juga manusia. Jadi saya boleh-boleh saja untuk menangis.
Mungkin ini sudah menjadi suatu kultur, bahwa seorang pria tidak boleh menangis. Apakah karena menangis adalah perbuatan yang menurunkan derajat seorang pria? Apakah karena seorang pria dilebihkan dalam beberapa hal, maka dia tidak memiliki hak untuk menangis? Ah, andai saja menangis itu wajar…..
7 Mei 2008 at 9:30 pm
hummm.. ini salah satu hal yg gw peduliin..
nangis bukan berarti cengeng, dalam tangis ada emosi, ketulusan, amarah, beban, bahagia, dan lain2
wah panjang dix sebenernya kl gw nulis bisa jadi postingan baru karna nyangkut ke suatu hal yg udah jadi paradigma di pikiran cowo2 sedunia.. hahaha.. tapi gw ambil salah satu sisinya aja deh..
dari mulai berbentuk sperma pun, mereka harus bertanding, siapa kuat dia menang..
waktu balita, kl cowo nangis paling banter dibilangin “eeeh, anak cowo ga boleh nangis ah jelek, harus kuat harus kuat..”
dan di kehidupan beliau selanjutnya pun secara tidak langsung memang menuntut dia untuk selalu terlihat tegar!
bahkan di islam pun, lelaki adalah pemimpin, inget, memimpin itu musibah! itu amanah yg amat sangat berat..
yah.. mungkin itu sedikit saja hal2 yang sekiranya membuat air mata lelaki tabu untuk keluar.. apalagi di hadapan umum..
19 Mei 2008 at 1:44 pm
pengen nangis lagi….
(